Menstruasi dan Sejarah Pembalut Wanita

Menstruasi dan Sejarah Pembalut Wanita. #Menstruasi #Haid #Datang Bulan adalah perubahan fisiologis dalam tubuh wanita yang terjadi secara berkala dan dipengaruhi oleh hormone reproduksi baik itu FSH-Estrogen ataupun LH-Progresteron. Periode ini penting untuk diketahui dalam hal reproduksi wanita. Pada manusia, hal ini biasanya terjadi setiap bulan antara usia remaja sampai manupose. Memang tidak semua wanita mengalami menstruasi, hal ini bisa terjadi dikarenakan faktor genetic, kesehatan dll. Selain manusia, fase ini juga terjadi pada primate-primata besar. Pada binatang-binatang menyusui lainnya mengalami siklus yang disebut sebagai estrus (Masa Birahi).

sejarah pembalut wanita2
sejarah pembalut wanita

Pada wanita menstruasi rata-rata terjadi sekitar 28 hari, akan tetapi tidak semua wanita memiliki siklus mentruasi yang sama. Kadangkala siklus menstruasi terjadi setiap 21 hari hingga 30 hari. Biasanya menstruasi terjadi 5 hari. Namun kebanyakan wanita terjadi antara 2 sampai dengan 7 hari dan yang paling lama adalah 15 hari. Jika darah tetap keluar dalam jangka waktu melebihi 15 hari maka itu adalah penyakit. Anda harus segera mungkin memeriksakan ke dokter terdekat. Umumnya darah yang hilang saat wanita mengalami menstruasi adalah 10 ml hingga 80 ml/hari, namun adapula yang sampai dengan 35 ml per harinya.

Perlu anda ketahui bahwa menstruasi adalah fakta biologis, namun sepanjang sejarah, tubuh wanita selalu memnimbulkan intrik dan problematic. Hingga hal biologis seperti halnya menstruasi pun menimbulkan berbagai dampak dalam berbagai aspek. Malu dan isolasi misalnya. Wanita yang sedang mentruasi dianggap sebagai wanita yang sedang najis. Sehingga para pria tidak boleh mendekati wanita yang sedang menstruasi. Hal ini telah menjadi aib mulai jaman dahulu hingga sekarang.

Sejarah Pembalut Wanita

sejarah pembalut wanita
sejarah pembalut wanita

Pada jaman dahulu, wanita sama sekali tidak menggunakan alat apapun pada saat haid. Wanita pada awal masehi hanya menghabiskan waktu di tempat yang bisa menyerap darah hingga usai menstruasinya. Mereka tidak bisa bepergian kemanapun. Selang perkembangan jaman, wanita mulai menggunakan bahan penyerap. Ada yang menggunakan papyrus (wanita Mesir kuno), daun pakis (Hawaii), lumut rumput atau tanaman lain (Afrika), tampon kertas (Afrika), woll (Roma), kapas dan spons (Eropa), atau serat sayuran seperti digunakan oleh orang Indonesia.

Bagaimana wanita menggunakan pembalut pada masa lalu? Ada beragam kisah yang menceritakan masalah ini. Di India misalnya, India memiliki mitos Dewa Indra, Seperti ditulis oleh Wendy Donige dalam Splitting the Difference, dikisahkan bagaimana Indra mendapatkan vagina yang sedang haid, yang memiliki bau yang tidak sedap dan dibalut dengan kain.

Dalam beberapa tulisannya, Hippokrates seorang Fisikawan sekaligus ahli medis Yunani kuno menceritakan tentang wanita-wanita yang membuat tamponsendiri. Mereka kemudian membungkus potongan-potongan kain tiras, kemudian diletakkan pada bantalan kayu.

Seorang cendekiawati Yunani kuno bernama Hypatia juga menggunakan kain ketika sedang mengalami mentruasi. Ada kisah menarik dan terkenal yang dituliskan oleh Alan Cameron, Jaqueline Long dan Lee Sherry dalam Barbarians and politics at the Chourt of arcadius. Ketika mereka dilempari oleh pembalut bekas oleh seorang muridnya.

Dalam era modern pembalut mulai diperdagangkan. Berdasarkan pada dokumen kuno di kota kecil di kota Tunisia yang ditulis di atas kertas kulit sebagaimana dituliskan ulang oleh SD Goitein dalam A Mediterranean Society, pada decade kedua abad Ke 11, pembalut menjadi komoditas perdagangan di laut tengah. Hal ini diketahui dari dokumen tagihan pengiriman/pemesanan barang.

Pembalut wanita terus berevolusi. Sempat ada pula pembalut yang penggunaannya dimasukkan ke dalam kantong dan diselipkan di antara kedua kaki (seperti cara memakani sabuk). Ada pula era menstrual cup, yaitu dimana mangkuk penyerap cairan dimasukkan ke dalam kain yang dikaitkan pada ikat pinggang. Pada saat itu wanita beum menggunakan celana dalam seperti sekarang ini.

Sembilan tahun kemudia, mentrual cup mulai menggunakan bahan dasar karet. Selain dapat menampung darah menstruasi, model ini sudah dilengkapi dengan selang yang berfungsi sebagai tempat untuk mengalirkan darah ke penampungan yang dipasang diluar,  biasanya diikatkan di pinggang.

Pada Abad 19, perawat-perawat di rumah sakit Eropa menemukan ide untuk membuat pembalut sekali pakai. Mereka membuatnya dengan bahan sederhana yang tersedia di rumah sakit, yaitu perban dari pulp kayu, yang biasa digunakan untuk merawat tentara saat perang, dengan bantalan penerap terbuat dari bantalan kain.

Ide ini kemudian mulai diadopsi oleh sejumlah perusahaan. Berbentuk segi empat dengan berbahan dasar kain katun. Penggunaan bantalan kain ini diikatpak paga ikat pinggang ataupun korset pemakai.

Pembalut sekali pakai mulai diproduksi secara masal pada tahun 1900an, namun perlu diketahui bahwa pada saat itu harganya sangat mahal sekali. Pada saat itu yang mampu membelu hanyalah wanita kaya saja. Maka dari itu pembalut pada saat itu menjadi trend di masyarakat eropa. Rerata pengguna pembalut ini adalah para borjuis eropa.

Pada 1896, Johnson & Johnson telah memproduksi pembalut sekali pakai dengan harga yang sangat terjangkau yang pada saat itu terkenal dengan nama Lister’s Towels. Namun karena minimnya promosi, Listers Towels ini tidak sukses di pasaran dan akhirnya gulung tikar. Memang pada saat itu iklan hal-hal yang berurusan dengan bagian dalam perempuan masih sangat tabu. Maka sangat logis jika Listers Towels akhirnya tidak diketahui oleh banyak perempuan yang sangat membutuhkan informasi ini.

Pada saat Perang Dunia I mulai terjadi, perban kapas untuk pembalut sulit sekali diperoleh. Kemudian banyak perempuan menggantikannya dengan kapas selulosa. Perusahaan Kimberly Clark memanfaatkan peluang ini. Pada 1920, produk Kotex dalam bentuk sabuk elastis mulai dipasarkan, namun mulai diterima masyarakat pada 1926. Butuh waktu 6 tahun untuk melakukan promosi akan manfaat pembalut Kotex ini. Mulai mengaami pengingkatan yang fantastis pada 1930an.

Pada 1970 Stayfree dan New Freedom dipasarkan. Pada saat itu semua pembalut masih menggunakan sabuk. Stayfree dan New Freedom merek pembalut yang dimiliki oleh Personal Product Company dan Kimberly Clark.

Di Indonesia pada masa kolonial ditunjukkan dalam iklan Dames Gordel (sebuah pembalut yang terbuat dari kain karet) pada saat itu orang lebih familiar dengan menyebut Kussen. Bahan dasar dari pembalut ini adalah kapas yang sangat cepat dalam menyerap darah haid.

Pada perkembangannya, pembalut dengan perekat mulai mengambil alih pasaran. Bahan dasar pembalut juga berubah setelah ditemukannya serat sintesis. Bahan, Bentuk dan fungsi pembalut juga lebih baik. Katun, rayon, atau campuran keduanya merupakan bahan yang umum digunakan sekarang. Penggunaan gel sebagai bahan meningkatkan daya serap pembalut pun dikembangkan agar mampu menyerap darah sebanyak-banyaknya.

Di Indonesia, Softex adalah pelopor pembalut sekali pakai. Sehingga jangan kaget jika orang menyebut nama pembalut sesuai dengan namanya. Softex mulai hadir di pasaran pada 1974, pada saat pembalut sekali pakai umumnya adalah produk luar negeri dan sangat mahal.

Sejarah Softex Berawal dari perusahaan garmen kemudian menjadi perusahaan pembalut, karena karyawan-karyawan perempuannya seringkali mengambil sisa-sisa kain untuk digunakan sebagai pembalut. Pada 1980-an, produk pembalut Softex merajai pasar pembalut di Indonesia. Itulah sebabnya mengapa orang banyak menyebut pembalut dengan nama softex, apapun merek pembalutnya disebut Softex juga. heheh

Seiring perkembangannya, di Indonesia mulai bermunculan pesaing softex. Melihat keberhasilan Softex di pasaran dan pasarnya sangat jelas,  maka mulai menjamurlah perusahaan yang bergerak dalam bidang pembalut ini. Mereka hadir dengan ragam varian, harga, teknologi, rasa dan seterusnya.

Banyaknya pembalut ini tentunya akan berdampak pada kondisi lingkungan. Karena sampah pembalut ini sangat susah diurai. Selain itu ternyata pembalut sangat tidak aman bagi kesehatan Miss V. Kandungan Dioksin dalam pembalut dalam berbagai penelitian menyebutkan bisa mengakibatkan kanker serviks. Dioksin adalah senyawa yang terbentuk akibat dari letusan gunung berapi, kebakaran hutan atau peleburan bangunan.

Dalam pembalut Senyawa Dioksin bisa ditemukan pada bubur kertas yang merupakan bahan dasar pembuatan pembalut. Beberapa pembalut bahkan diberikan wewangian untuk menyamarkan bau darah dan pemutih. Perlu anda ketahui juga bahwa kertas yang digunakan untuk pembalut adalah kertas daur ulang paling akhir. Karena bnayak kertas yang bisa didaur ulang yang lebih bermanfaat ketimbang menjadi pembalut.

Ikuti cara Boyke Dian Nugroho dalam menjaga kesehatan Miss V ya. Lihat artikel-artikel lainnya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *